A.
Pengertian
Berikut ini berbagai pengertian
Penyakit Jantung Rematik menurut beberapa sumber :
·
Reumatoid
heart disease (RHD) adalah suatu proses peradangan yang mengenai
jaringan-jaringan penyokong tubuh, terutama persendian, jantung dan pembuluh
darah oleh organisme streptococcus hemolitic-b grup A (Pusdiknakes, 1993).
·
Penyakit
Jantung Rematik (PJR) atau dalam bahasa medisnya Rheumatic Heart Disease (RHD)
adalah suatu proses peradangan yang mengenai jaringan-jaringan penyokong
tubuh, terutama persendian, jantung dan pembuluh darah oleh organisme
streptococcus hemolitic-b grup A (Pusdiknakes, 1993).
·
Demam
reumatik adalah suatu sindroma penyakit radang yang biasanya timbul setelah
suatu infeksi tenggorok oleh steptokokus beta hemolitikus golongan A, mempunyai
kecenderungan untuk kambuh dan dapat menyebabkan gejala sisa pada jantung
khususnya katub (LAB/UPF Ilmu Kesehatan Anak, 1994)
·
Penyakit
jantung reumatik adalah penyakit yang di tandai dengan kerusakan pada katup
jantung akibat serangan karditis reumatik akut yang berulang kali. (kapita
selekta, edisi 3, 2000)
·
Penyakit
jantung reumatik merupakan proses imun sistemik sebagai reaksi terhadap infeksi
streptokokus hemolitikus di faring (Brunner & Suddarth, 2001).
·
Penyakit
jantung reumatik adalah penyakit peradangan sistemik akut atau kronik yang
merupakan suatu reaksi autoimun oleh infeksi Beta Streptococcus Hemolyticus
Grup A yang mekanisme perjalanannya belum diketahui, dengan satu atau lebih
gejala mayor yaitu Poliarthritis migrans akut, Karditis, Koreaminor, Nodul
subkutan dan Eritema marginatum (Lawrence M. Tierney, 2002).
B.
Etiologi
Etiologi
terpenting dari penyakit jantung reumatik adalah demam
reumatik. Demam reumatik merupakan penyakit
vaskular kolagen multisistem yang terjadi setelah infeksi Streptococcuus
grup A pada individu yang mempunyai faktor predisposisi. keterlibatan
kardiovaskuler pada penyakit ini ditandai oleh inflamasi endokardium dan
miokardium melalui suatu proses “autoimunne” yang menyebabkan kerusakan
jaringan. inflamasi yang berat dapat melibatkan perikardium. Valvulitis
merupakan tanda utama reumatik karditis yang paling banyak mengenai katup
mitral (76%) katup aorta (13%) dan katup mitral dan katup aorta (97%). insidens
tertinggi ditemukan pada anak berumur
5-15 tahun.
.Pada penelitian menunjukan bahwa RHD
terjadi akibat adanya reaksi imunologis antigen-antibodi dari tubuh. Antibodi
yang melawan streptococcus bersifat sebagai antigen sehingga terjadi reaksi
autoimun.
Faktor-faktor
predisposisi terjadinya penyakit jantung rematik / Rheumatic Heart Desease
terdapat pada diri individu itu sendiri dan juga faktor lingkungan.
Faktor dari Individu diantaranya yaitu :
Faktor dari Individu diantaranya yaitu :
1.
Faktor genetik
Adanya antigen
limfosit manusia ( HLA ) yang tinggi. HLA terhadap demam rematik
menunjukan hubungan dengan aloantigen sel B spesifik dikenal dengan antibodi
monoklonal dengan status reumatikus.
2. Umur
Umur agaknya merupakan faktor predisposisi terpenting
pada timbulnya demam reumatik / penyakit jantung reumatik. Penyakit ini paling
sering mengenai anak umur antara 5-15 tahun dengan puncak sekitar umur 8 tahun.
Tidak biasa ditemukan pada anak antara umur 3-5 tahun dan sangat jarang sebelum
anak berumur 3 tahun atau setelah 20 tahun. Distribusi umur ini dikatakan
sesuai dengan insidens infeksi streptococcus pada anak usia sekolah. Tetapi
Markowitz menemukan bahwa penderita infeksi streptococcus adalah mereka yang
berumur 2-6 tahun.
3. Keadaan gizi dan lain-lain
Keadaan gizi
serta adanya penyakit-penyakit lain belum dapat ditentukan apakah merupakan
faktor predisposisi untuk timbulnya demam reumatik.
4.
Golongan etnik
dan ras
Data di Amerika
Utara menunjukkan bahwa serangan pertama maupun ulang demam reumatik lebih
sering didapatkan pada orang kulit hitam dibanding dengan orang kulit putih.
Tetapi data ini harus dinilai hati-hati, sebab mungkin berbagai faktor
lingkungan yang berbeda pada kedua golongan tersebut ikut berperan atau bahkan
merupakan sebab yang sebenarnya.
5.
Jenis kelamin
Demam reumatik
sering didapatkan pada anak wanita dibandingkan dengan anak laki-laki. Tetapi
data yang lebih besar menunjukkan tidak ada perbedaan jenis kelamin, meskipun
manifestasi tertentu mungkin lebih sering ditemukan pada satu jenis kelamin.
6.
Reaksi autoimun
Dari penelitian
ditemukan adanya kesamaan antara polisakarida bagian dinding sel streptokokus
beta hemolitikus group A dengan glikoprotein dalam katub mungkin ini mendukung
terjadinya miokarditis dan valvulitis pada reumatik fever.
Faktor-faktor dari lingkungan itu sendiri :
1.
Keadaan sosial
ekonomi yang buruk
Mungkin ini
merupakan faktor lingkungan yang terpenting sebagai predisposisi untuk
terjadinya demam
rematik. Insidens demam reumatik di negara-negara yang sudah maju, jelas
menurun sebelum era antibiotik termasuk dalam keadaan sosial ekonomi yang buruk
sanitasi lingkungan yang buruk, rumah-rumah dengan penghuni padat, rendahnya
pendidikan sehingga pengertian untuk segera mengobati anak yang menderita sakit
sangat kurang; pendapatan yang rendah sehingga biaya untuk perawatan kesehatan
kurang dan lain-lain. Semua hal ini merupakan faktor-faktor yang memudahkan
timbulnya demam reumatik.
2.
Cuaca
Perubahan cuaca
yang mendadak sering mengakibatkan insidens infeksi saluran nafas bagian atas
meningkat, sehingga insidens demam reumatik juga meningkat.
3.
Iklim dan
geografi
Demam reumatik
merupakan penyakit kosmopolit. Penyakit terbanyak didapatkan didaerah yang
beriklim sedang, tetapi data akhir-akhir ini menunjukkan bahwa daerah tropis
pun mempunyai insidens yang tinggi, lebih tinggi dari yang diduga semula.
Didaerah yang letaknya agak tinggi agaknya angka kejadian demam rematik lebih
tinggi daripada didataran rendah.
C.
Patofisiologi
Terjadinya
jantung rematik disebabkan langsung oleh demam rematik, suatu penyakit sistemik
yang disebabkan oleh infeksi streptokokus grup A. demam rematik mempengaruhi
semua persendian, menyebabkan poliartritis. Jantung merupakan organ sasaran dan
merupakan bagian yang kerusakannya paling serius.
Kerusakan jantung dan lesi sendi bukan akibat infeksi, artinya jaringan tersebut tidak mengalami infeksi atau secara langsung dirusak oleh organism tersebut, namun hal ini merupakan fenomena sensitivitas atau reaksi, yang terjadi sebagai respon terhadap streptokokus hemolitikus. Leukosit darah akan tertimbun pada jaringan yang terkena dan membentuk nodul, yang kemudian akan diganti dengan jaringan parut. Miokardium tentu saja terlibat dalam proses inflamasi ini; artinya, berkembanglah miokarditis rematik, yang sementara melemahkan tenaga kontraksi jantung. Demikian pula pericardium juga terlibat; artinya, juga terjadi pericarditis rematik selama perjalanan akut penyakit. Komplikasi miokardial dan pericardial biasanya tanpa meninggalkan gejala sisa yang serius. Namun sebaliknya endokarditis rematik mengakibatkan efek samping kecacatan permanen.
Endokarditis rematik secara anatomis dimanifestasikan dengan adanya tumbuhan kecil yang transparan, yang menyerupai manik dengan ukuran sebesar kepala jarum pentul, tersusun dalam deretan sepanjang tepi bilah katup. Manic-manik kecil itu tidak tampak berbahaya dan dapat menghilang tanpa merusak bilah katup, namun yang lebih sering mereka menimbulkan efek serius. Mereka menjadi awal terjadinya suatu proses yang secara bertahap menebalkan bilah-bilah katup, menyebabkan menjadi memendek dan menebal disbanding yang normal, sehingga tidak dapat menutup dengan sempurna. Terjadilah kebocoran, suatu keadaan yang disebut regurgitasi katup. Tempat yang paling sering mengalami regurgitasi katup adalah katup mitral.
Kerusakan jantung dan lesi sendi bukan akibat infeksi, artinya jaringan tersebut tidak mengalami infeksi atau secara langsung dirusak oleh organism tersebut, namun hal ini merupakan fenomena sensitivitas atau reaksi, yang terjadi sebagai respon terhadap streptokokus hemolitikus. Leukosit darah akan tertimbun pada jaringan yang terkena dan membentuk nodul, yang kemudian akan diganti dengan jaringan parut. Miokardium tentu saja terlibat dalam proses inflamasi ini; artinya, berkembanglah miokarditis rematik, yang sementara melemahkan tenaga kontraksi jantung. Demikian pula pericardium juga terlibat; artinya, juga terjadi pericarditis rematik selama perjalanan akut penyakit. Komplikasi miokardial dan pericardial biasanya tanpa meninggalkan gejala sisa yang serius. Namun sebaliknya endokarditis rematik mengakibatkan efek samping kecacatan permanen.
Endokarditis rematik secara anatomis dimanifestasikan dengan adanya tumbuhan kecil yang transparan, yang menyerupai manik dengan ukuran sebesar kepala jarum pentul, tersusun dalam deretan sepanjang tepi bilah katup. Manic-manik kecil itu tidak tampak berbahaya dan dapat menghilang tanpa merusak bilah katup, namun yang lebih sering mereka menimbulkan efek serius. Mereka menjadi awal terjadinya suatu proses yang secara bertahap menebalkan bilah-bilah katup, menyebabkan menjadi memendek dan menebal disbanding yang normal, sehingga tidak dapat menutup dengan sempurna. Terjadilah kebocoran, suatu keadaan yang disebut regurgitasi katup. Tempat yang paling sering mengalami regurgitasi katup adalah katup mitral.
D.
Manifestasi Klinik
Perjalanan
klinis penyakit demam reumatik/penyakit jantung reumatik dapat dibagi dalam 4
stadium.
·
Stadium I
Berupa infeksi
saluran nafas atas oleh kuman Beta Streptococcus Hemolyticus Grup A.Keluhan:
Demam, batuk, rasa sakit waktu menelan, muntah, diare, peradangan padatonsil
yang disertai eksudat.
·
Stadium
II
Stadium ini
disebut juga periode laten, ialah masa antara infeksi streptococcus
denganpermulaan gejala demam reumatik; biasanya periode ini berlangsung 1-3
minggu,kecuali korea yang dapat timbul 6 minggu atau bahkan berbulan-bulan
kemudian.
·
Stadium
III
Yang dimaksud
dengan stadium III ini ialah fase akut demam reumatik, saat ini timbulnya
berbagai manifestasi klinis demam reumatik/penyakit jantung reumatik.
Manifestasi klinis tersebut dapat digolongkan dalam gejala peradangan umum
danmenifesrasi spesifik demam reumatik/penyakit jantung reumatik. Gejala
peradangan umum: Demam yang tinggi, lesu, anoreksia, lekas tersinggung, berat
badan menurun, kelihatan pucat, epistaksis, athralgia, rasa sakit disekitar
sendi, sakit perut.
·
Stadium
IV
Disebut juga stadium inaktif.
Pada stadium ini penderita demam reumatik tanpa kelainan jantung/penderita
penyakit jantung reumatik tanpa gejala sisa katup tidak menunjukkan gejala
apa-apa.
Pada penderita
penyakit jantung reumatik dengan gejala sisa kelainan katupjantung, gejala yang
timbul sesuai dengan jenis serta beratnya kelainan. Pada fase ini
baik penderita demam reumatik maupun penyakit jantung reumatik
sewaktu-waktu dapat mengalami reaktivasi penyakitnya.
E.
Gejala Klinis
Demam reumatik merupakan kumpulan
sejumlah gejala dan tanda klinik. Demam reumatik merupakan penyakit pada banyak
sistem, mengenai terutama jantung, sendi, otak dan jaringan kulit. Tanda dan
gejala akut demam reumatik bervariasi tergantung organ yang terlibat dan
derajat keterlibatannya. Biasanya gejala-gejala ini berlangsung satu sampai
enam minggu setelah infeksi oleh Streptococcus. Gejala klinis pada penyakit
jantung reumatik bisa berupa gejala kardiak (jantung) dan non kardiak.
Gejala
non kardiak pada Penyakit Jantung Reumatik antara lain:
·
Manifestasi kardiak dari demam reumatik
(infeksi dan peradangan
jantung) adalah komplikasi paling serius dan kedua paling umum dari demam
reumatik (sekitar 50 %). Pada kasus-kasus yang lebih lanjut, pasien dapat
mengeluh sesak nafas, dada terasa tidak nyaman, nyeri dada, edema (bengkak),
batuk atau ortopneu (sesak saat berbaring)
– Pada pemeriksaan fisik, karditis (peradangan pada jantung) umumnya dideteksi dengan ditemukannya bising jantung (gangguan bunyi jantung) atau takikardia (jantung berdetak > 100x/menit) diluar terjadinya demam
– Manifestasi kardiak lain adalah gagal jantung kongestif dan perikarditis (radang selaput jantung)
– Pasien dengan diagnosis demam reumatik akut harus dikontrol sesering mungkin karena progresifitas penyakitnya.
– Pada pemeriksaan fisik, karditis (peradangan pada jantung) umumnya dideteksi dengan ditemukannya bising jantung (gangguan bunyi jantung) atau takikardia (jantung berdetak > 100x/menit) diluar terjadinya demam
– Manifestasi kardiak lain adalah gagal jantung kongestif dan perikarditis (radang selaput jantung)
– Pasien dengan diagnosis demam reumatik akut harus dikontrol sesering mungkin karena progresifitas penyakitnya.
·
Murmur (bising jantung) baru atau perubahan
bunyi murmur. Murmur yang didengar pada demam reumatik akut biasanya disebabkan
oleh insufisiensi katup (gangguan katup)
·
Gagal jantung kongestif
– Gagal jantung dapat terjadi sekunder akibat insufisiensi katup yang berat atau miokarditis (radang pada sel otot jantung)
– Gagal jantung dapat terjadi sekunder akibat insufisiensi katup yang berat atau miokarditis (radang pada sel otot jantung)
·
Perikarditis
·
Poliartritis (peradangan pada banyak sendi)
adalah gejala umum dan merupakan manifestasi awal dari demam reumatik (70 – 75
%). Umumnya artritis (radang sendi) dimulai pada sendi-sendi besar di
ekstremitas bawah (lutut dan engkel) lalu bermigrasi ke sendi-sendi besar lain
di ekstremitas atas atau bawah (siku dan pergelangan tangan). Sendi yang
terkena akan terasa sakit, bengkak, terasa hangat, eritem dan pergerakan
terbatas. Gejala artritis mencapai puncaknya pada waktu 12 – 24 jam dan
bertahan dalam waktu 2 – 6 hari (jarang terjadi lebih dari 3 minggu) dan
berespon sangat baik dengan pemberian aspirin. Poliartritis lebih umum dijumpai
pada remaja dan orang dewasa muda dibandingkan pada anak-anak.
·
Khorea Sydenham, khorea minor atau St. Vance,
dance mengenai hampir 15% penderita demam reumatik. Manifestasi ini
mencerminkan keterlibatan sistem syaraf sentral pada proses radang. Penderita
dengan khorea ini datang dengan gerakan-gerakan yang tidak terkoordinasi dan
tidak bertujuan dan emosi labil. Manifestasi ini lebih nyata bila penderita
bangun dan dalam keadaan stres. Penderita tampak selalu gugup dan seringkali
menyeringai. Bicaranya tertahan-tahan dan meledak-ledak. Koordinasi otot-otot
halus sukar. Tulisan tangannya jelek dan ditandai oleh coretan ke atas yang
tidak mantap dengan garis yang ragu-ragu. Pada saat puncak gejalanya tulisannya
tidak dapat dibaca sama sekali.
·
Erithema marginatum merupakan ruam yang khas
untuk demam reumatik dan jarang ditemukan pada penyakit lain. Karena
kekhasannya tanda ini dimasukkan dalam manifestasi minor. Kelainan ini berupa
ruam tidak gatal, makuler dengan tepi erithema (kemerahan) yang menjalar dari
bagian satu ke bagian lain mengelilingi kulit yang tampak normal, terjadi pada
5% penderita. Gangguan ini berdiameter 2,5 cm dan paling sering ditemukan pada
batang tubuh dan tungkai bagian atas, tidak melibatkan muka. Erithema ini
timbul sewaktu-waktu selama sakit, meskipun yang tersering adalah pada stadium
awal, dan biasanya terjadi hanya pada penderita demam reumatik dengan karditis.
·
Nodul subkutan. Frekuensi manifestasi ini
menurun sejak beberapa dekade terakhir, dan kini hanya ditemukan pada penderita
penyakit jantung reumatik khronik. Frekuensinya kurang dari 5%, namun pada
penjangkitan di Utah nodulus subkutan ditemukan pada sampai 10% penderita.
Nodulus (benjolan) ini biasanya terletak pada permukaan sendi, terutama ruas
jari, lutut, dan persendian kaki. Kadang-kadangg nodulus ini ditemukan pada
kulit kepala dan di atas tulang belakang. Ukurannya bervariasi dari 0,5 sampai
dengan 2 cm serta tidak nyeri dan dapat digerakkan secara bebas; biasanya kecil
dan menghilang lebih cepat. Kulit yang menutupi tidak pucat atau meradang.
Nodulus ini muncul hanya sesudah beberapa minggu sakit dan kebanyakan hanya
ditemukan pada penderita dengan karditis.
·
Manifestasi lain dari demam reumatik antara
lain nyeri perut, epistaksis (mimisan), demam dengan suhu di atas 39 °C dengan
pola yang tidak karakteristik, pneumonia reumatik yang gejalanya mirip dengan
pneumonia karena infeksi.
·
Tromboemboli (sumbatan di pembuluh darah)
bisa terjadi sebagai komplikasi dari stenosis mitral (gangguan katup).
·
Anemia hemolitik kardiak bisa terjadi akibat
pecahnya sel darah merah karena bergesekan dengan katup yang terinfeksi.
Peningkatan penghancuran trombosit bisa juga terjadi.
·
Aritmia atrium (gangguan irama jantung)
biasanya terjadi karena pembesaran atrium kiri karena gangguan pada katup
mitral.
Gejala kardiak pada Penyakit
Jantung Reumatik antara lain:
·
Pankarditis (radang pada jantung) adalah
komplikasi paling serius dan kedua paling umum dari demam reumatik (sekitar 50
%). Pada kasus-kasus yang lebih lanjut, pasien dapat mengeluh sesak nafas, dada
terasa tidak nyaman, nyeri dada, edema (bengkak), batuk.
·
Manifestasi kardiak lain adalah gagal jantung
kongestif dan perikarditis.
·
Kelainan pada bunyi jantung
·
Gagal jantung
·
Radang pada selaput jantung
F.
Pemeriksaan
1.
Pemeriksaan
laboratorium
Dari pemeriksaan laboratorium darah didapatkan peningkatan ASTO, peningkatan laju endap darah ( LED ),terjadi leukositosis, dan dapat terjadi penurunan hemoglobin .
Dari pemeriksaan laboratorium darah didapatkan peningkatan ASTO, peningkatan laju endap darah ( LED ),terjadi leukositosis, dan dapat terjadi penurunan hemoglobin .
2.
Radiologi
Pada pemeriksaan foto thoraks menunjukan terjadinya pembesaran pada jantung
Pada pemeriksaan foto thoraks menunjukan terjadinya pembesaran pada jantung
3.
Pemeriksaan
Echokardiogram
Menunjukan pembesaran pada jantung dan terdapat lesi
Menunjukan pembesaran pada jantung dan terdapat lesi
4.
Pemeriksaan
Elektrokardiogram
Menunjukan interval P-R memanjang.
Menunjukan interval P-R memanjang.
5.
Hapusan
tenggorokan
Ditemukan steptococcus hemolitikus b grup A
Ditemukan steptococcus hemolitikus b grup A
G.
Pencegahan
Dapat dicegah melalui penatalaksanaan
awal dan adekuat terhadap infeksi streptokokus pada semua orang.
Langkah pertama dalam mencegah
serangan awal adalah mendeteksi adanya infeksi streptokokus untuk
penatalaksanaan yang adekuat, dan pemantauan epidemi dalam komunitas. Setiap
perawat harus mengenal dengan baik tanda dan gejala faringitis streptokokus;
panas tinggi (38,9° sampai 40°C atau 101° sampai 104°F), menggigil, sakit
tenggorokan, kemerahan pada tenggorokan disertai aksudat, nyeri abdomen, dan
infeksi hidung akut. Kultur tenggorok merupakan satu-satunya metode untuk menegakkan
diagnosa secara akurat.
Pasien yang rentan memerlukan terapi
antibiotika oral jangka panjang atau perlu menelan antibiotika profilaksis
sebelum menjalani prosedur yang dapat menimbulkan invasi oleh mikroorganisme
ini. Pemberian penisilin sebelum pemeriksaan gigi merupakan contoh yang baik.
Pasien juga harus diingatkan untuk menggunakan antibiotika profilaksis pada
prosedur yang lebih jarang dilakukan seperti sitoskopi.
H.
Penatalaksanaan
Karena penyakit jantung rematik berhubungan erat dengan radang Streptococcus betahemolyticus grup A, maka penyembuhan ditujukan pada radang tersebut. Ini dapat berupa :
Karena penyakit jantung rematik berhubungan erat dengan radang Streptococcus betahemolyticus grup A, maka penyembuhan ditujukan pada radang tersebut. Ini dapat berupa :
1.
Eradikasi
kuman Streptococcus beta-hemolyticus grup A
Pengobatan adekuat harus dimulai secepatnya pada DR dan dilanjutkan dengan pencegahan. Erythromycin diberikan kepada mereka yang alergi terhadap penicillin.
Pengobatan adekuat harus dimulai secepatnya pada DR dan dilanjutkan dengan pencegahan. Erythromycin diberikan kepada mereka yang alergi terhadap penicillin.
2.
Obat
anti rematik
Baik cortocisteroid maupun salisilat diketahui sebagai obat yang berguna untuk mengurangi/menghilangkan gejala-gejala radang akut pada DR.
Baik cortocisteroid maupun salisilat diketahui sebagai obat yang berguna untuk mengurangi/menghilangkan gejala-gejala radang akut pada DR.
3.
Manajemen Diet
Tujuan diet pada penyakit jantung reumatik adalah memberikan makanan secukupnya tanpa memberatkan kerja jantung, mencegah atau menghilangkan penimbunan garam atau air. Syarat-syarat diet pada penyakit jantung reumatik antara lain:
Tujuan diet pada penyakit jantung reumatik adalah memberikan makanan secukupnya tanpa memberatkan kerja jantung, mencegah atau menghilangkan penimbunan garam atau air. Syarat-syarat diet pada penyakit jantung reumatik antara lain:
·
Energi
yang cukup untuk mencapai atau mempertahankan berat badan yang normal.
·
Protein
yang cukup yaitu 0,8 gram/KgBB
·
Lemak sedang yaitu 25-30 % dari kebutuhan
energi total (10 % dari lemak jenuh dan 15 % dari lemak tidak jenuh).
·
Vitamin
dan mineral yang cukup.
·
Diet
rendah garam (2-3 gram/hari).
·
Makanan
mudah dicerna dan tidak menimbulkan gas.
·
Serat
yang cukup untuk menghindari konstipasi.
·
Cairan
cukup 2 liter/hari
Bila kebutuhan gizi dapat dipenuhi melalui makanan maka dapat diberikan berupa makanan enteral, parenteral atau suplemen gizi. Makanan yang cukup kalori, protein dan vitamin.
Bila kebutuhan gizi dapat dipenuhi melalui makanan maka dapat diberikan berupa makanan enteral, parenteral atau suplemen gizi. Makanan yang cukup kalori, protein dan vitamin.
4.
Istirahat
Istirahat dianjurkan sampai tanda-tanda inflamasi hilang dan bentuk jantung mengecil pada kasus-kasus kardiomegali. Biasanya 7-14 hari pada kasus Demam Reumatik minus carditis. Pada kasus plus carditis, lama istirahat rata-rata 3 minggu – 3 bulan tergantung pada berat ringannya kelainan yang ada serta kemajuan perjalanan penyakit.
Istirahat dianjurkan sampai tanda-tanda inflamasi hilang dan bentuk jantung mengecil pada kasus-kasus kardiomegali. Biasanya 7-14 hari pada kasus Demam Reumatik minus carditis. Pada kasus plus carditis, lama istirahat rata-rata 3 minggu – 3 bulan tergantung pada berat ringannya kelainan yang ada serta kemajuan perjalanan penyakit.
5.
Obat-obatan
Diberikan sesuai dengan kebutuhan. Pada kasus dengan dekompensasi kordis diberikan digitalis, diuretika dan sedative. Bila ada chorea diberikan largactil dan lain-lain.
Diberikan sesuai dengan kebutuhan. Pada kasus dengan dekompensasi kordis diberikan digitalis, diuretika dan sedative. Bila ada chorea diberikan largactil dan lain-lain.
I.
Prognosis
Adanya atau tidak adanya kerusakan
jantung permanen menentukan prognosis. Perkembangan dari penyakit jantung
residual dipengaruhi oleh 3 faktor, yaitu :
1.
Keadaan
jantung pada awal terapi. Semakin berat keterlibatan jantung pada saat pertama kali
pasien diperiksa, semakin besar resiko timbulnya kelainan jantung residual.
2.
Kekambuhan
demam reumatik. Semakin berat keterlibatan katup, maka angka kekambuhannya
semakin tinggi.
3.
Regresi
dari gangguan jantung. Bukti adanya keterlibatan jantung pada serangan awal
mungkin tidak terlihat pada 10 – 25 % pasien, dan baru nampak kurang lebih 10
tahun setelah serangan awal