Senin, 09 Maret 2015

Penyakit Jantung Rematik

A.   Pengertian
Berikut ini berbagai pengertian Penyakit Jantung Rematik menurut beberapa sumber :
·         Reumatoid heart disease (RHD) adalah suatu proses peradangan yang mengenai jaringan-jaringan penyokong tubuh, terutama persendian, jantung dan pembuluh darah oleh organisme streptococcus hemolitic-b grup A (Pusdiknakes, 1993).
·         Penyakit Jantung Rematik (PJR) atau dalam bahasa medisnya Rheumatic Heart Disease (RHD) adalah suatu proses peradangan yang mengenai jaringan-jaringan penyokong tubuh, terutama persendian, jantung dan pembuluh darah oleh organisme streptococcus hemolitic-b grup A (Pusdiknakes, 1993).
·         Demam reumatik adalah suatu sindroma penyakit radang yang biasanya timbul setelah suatu infeksi tenggorok oleh steptokokus beta hemolitikus golongan A, mempunyai kecenderungan untuk kambuh dan dapat menyebabkan gejala sisa pada jantung khususnya katub (LAB/UPF Ilmu Kesehatan Anak, 1994)
·         Penyakit jantung reumatik adalah penyakit yang di tandai dengan kerusakan pada katup jantung akibat serangan karditis reumatik akut yang berulang kali. (kapita selekta, edisi 3, 2000)
·         Penyakit jantung reumatik merupakan proses imun sistemik sebagai reaksi terhadap infeksi streptokokus hemolitikus di faring (Brunner & Suddarth, 2001).
·         Penyakit jantung reumatik adalah penyakit peradangan sistemik akut atau kronik yang merupakan suatu reaksi autoimun oleh infeksi Beta Streptococcus Hemolyticus Grup A yang mekanisme perjalanannya belum diketahui, dengan satu atau lebih gejala mayor yaitu Poliarthritis migrans akut, Karditis, Koreaminor, Nodul subkutan dan Eritema marginatum (Lawrence M. Tierney, 2002).

B.   Etiologi
Etiologi terpenting dari penyakit jantung reumatik adalah demam reumatik. Demam reumatik merupakan penyakit  vaskular kolagen multisistem yang terjadi setelah infeksi Streptococcuus grup A pada individu yang mempunyai faktor predisposisi. keterlibatan kardiovaskuler pada penyakit ini ditandai oleh inflamasi endokardium dan miokardium melalui suatu proses “autoimunne” yang menyebabkan kerusakan jaringan. inflamasi yang berat dapat melibatkan perikardium. Valvulitis merupakan tanda utama reumatik karditis yang paling banyak mengenai katup mitral (76%) katup aorta (13%) dan katup mitral dan katup aorta (97%). insidens tertinggi ditemukan pada anak berumur  5-15 tahun.
.Pada penelitian menunjukan bahwa RHD terjadi akibat adanya reaksi imunologis antigen-antibodi dari tubuh. Antibodi yang melawan streptococcus bersifat sebagai antigen sehingga terjadi reaksi autoimun.
Faktor-faktor predisposisi terjadinya penyakit jantung rematik / Rheumatic Heart Desease terdapat pada diri individu itu sendiri dan juga faktor lingkungan.
Faktor dari Individu diantaranya yaitu :
1.    Faktor genetik
Adanya antigen limfosit manusia ( HLA ) yang tinggi. HLA terhadap demam rematik menunjukan hubungan dengan aloantigen sel B spesifik dikenal dengan antibodi monoklonal dengan status reumatikus.
2.    Umur
Umur agaknya merupakan faktor predisposisi terpenting pada timbulnya demam reumatik / penyakit jantung reumatik. Penyakit ini paling sering mengenai anak umur antara 5-15 tahun dengan puncak sekitar umur 8 tahun. Tidak biasa ditemukan pada anak antara umur 3-5 tahun dan sangat jarang sebelum anak berumur 3 tahun atau setelah 20 tahun. Distribusi umur ini dikatakan sesuai dengan insidens infeksi streptococcus pada anak usia sekolah. Tetapi Markowitz menemukan bahwa penderita infeksi streptococcus adalah mereka yang berumur 2-6 tahun.
3.    Keadaan gizi dan lain-lain
Keadaan gizi serta adanya penyakit-penyakit lain belum dapat ditentukan apakah merupakan faktor predisposisi untuk timbulnya demam reumatik.
4.    Golongan etnik dan ras
Data di Amerika Utara menunjukkan bahwa serangan pertama maupun ulang demam reumatik lebih sering didapatkan pada orang kulit hitam dibanding dengan orang kulit putih. Tetapi data ini harus dinilai hati-hati, sebab mungkin berbagai faktor lingkungan yang berbeda pada kedua golongan tersebut ikut berperan atau bahkan merupakan sebab yang sebenarnya.
5.    Jenis kelamin
Demam reumatik sering didapatkan pada anak wanita dibandingkan dengan anak laki-laki. Tetapi data yang lebih besar menunjukkan tidak ada perbedaan jenis kelamin, meskipun manifestasi tertentu mungkin lebih sering ditemukan pada satu jenis kelamin.
6.    Reaksi autoimun
Dari penelitian ditemukan adanya kesamaan antara polisakarida bagian dinding sel streptokokus beta hemolitikus group A dengan glikoprotein dalam katub mungkin ini mendukung terjadinya miokarditis dan valvulitis pada reumatik fever.
Faktor-faktor dari lingkungan itu sendiri :
1.    Keadaan sosial ekonomi yang buruk
Mungkin ini merupakan faktor lingkungan yang terpenting sebagai predisposisi untuk terjadinya demam rematik. Insidens demam reumatik di negara-negara yang sudah maju, jelas menurun sebelum era antibiotik termasuk dalam keadaan sosial ekonomi yang buruk sanitasi lingkungan yang buruk, rumah-rumah dengan penghuni padat, rendahnya pendidikan sehingga pengertian untuk segera mengobati anak yang menderita sakit sangat kurang; pendapatan yang rendah sehingga biaya untuk perawatan kesehatan kurang dan lain-lain. Semua hal ini merupakan faktor-faktor yang memudahkan timbulnya demam reumatik.
2.    Cuaca
Perubahan cuaca yang mendadak sering mengakibatkan insidens infeksi saluran nafas bagian atas meningkat, sehingga insidens demam reumatik juga meningkat.
3.    Iklim dan geografi
Demam reumatik merupakan penyakit kosmopolit. Penyakit terbanyak didapatkan didaerah yang beriklim sedang, tetapi data akhir-akhir ini menunjukkan bahwa daerah tropis pun mempunyai insidens yang tinggi, lebih tinggi dari yang diduga semula. Didaerah yang letaknya agak tinggi agaknya angka kejadian demam rematik lebih tinggi daripada didataran rendah.

C.   Patofisiologi
            Terjadinya jantung rematik disebabkan langsung oleh demam rematik, suatu penyakit sistemik yang disebabkan oleh infeksi streptokokus grup A. demam rematik mempengaruhi semua persendian, menyebabkan poliartritis. Jantung merupakan organ sasaran dan merupakan bagian yang kerusakannya paling serius.
            Kerusakan jantung dan lesi sendi bukan akibat infeksi, artinya jaringan tersebut tidak mengalami infeksi atau secara langsung dirusak oleh organism tersebut, namun hal ini merupakan fenomena sensitivitas atau reaksi, yang terjadi sebagai respon terhadap streptokokus hemolitikus. Leukosit darah akan tertimbun pada jaringan yang terkena dan membentuk nodul, yang kemudian akan diganti dengan jaringan parut. Miokardium tentu saja terlibat dalam proses inflamasi ini; artinya, berkembanglah miokarditis rematik, yang sementara melemahkan tenaga kontraksi jantung. Demikian pula pericardium juga terlibat; artinya, juga terjadi pericarditis  rematik selama perjalanan akut penyakit. Komplikasi miokardial dan pericardial biasanya tanpa meninggalkan gejala sisa yang serius. Namun sebaliknya endokarditis rematik mengakibatkan efek samping kecacatan permanen.
            Endokarditis rematik secara anatomis dimanifestasikan dengan adanya tumbuhan kecil yang transparan, yang menyerupai manik dengan ukuran sebesar kepala jarum pentul, tersusun dalam deretan sepanjang tepi bilah katup. Manic-manik kecil itu tidak tampak berbahaya dan dapat menghilang tanpa merusak bilah katup, namun yang lebih sering mereka menimbulkan efek serius. Mereka menjadi awal terjadinya suatu proses yang secara bertahap menebalkan bilah-bilah katup, menyebabkan menjadi memendek dan menebal disbanding yang normal, sehingga tidak dapat menutup dengan sempurna. Terjadilah kebocoran, suatu keadaan yang disebut regurgitasi katup. Tempat yang paling sering mengalami regurgitasi katup adalah katup mitral.

D.   Manifestasi Klinik
Perjalanan klinis penyakit demam reumatik/penyakit jantung reumatik dapat dibagi dalam 4 stadium.
·         Stadium I
Berupa infeksi saluran nafas atas oleh kuman Beta Streptococcus Hemolyticus Grup A.Keluhan: Demam, batuk, rasa sakit waktu menelan, muntah, diare, peradangan padatonsil yang disertai eksudat.
·         Stadium II 
Stadium ini disebut juga periode laten, ialah masa antara infeksi streptococcus denganpermulaan gejala demam reumatik; biasanya periode ini berlangsung 1-3 minggu,kecuali korea yang dapat timbul 6 minggu atau bahkan berbulan-bulan kemudian.
·         Stadium III 
Yang dimaksud dengan stadium III ini ialah fase akut demam reumatik, saat ini timbulnya berbagai manifestasi klinis demam reumatik/penyakit jantung reumatik. Manifestasi klinis tersebut dapat digolongkan dalam gejala peradangan umum danmenifesrasi spesifik demam reumatik/penyakit jantung reumatik. Gejala peradangan umum: Demam yang tinggi, lesu, anoreksia, lekas tersinggung, berat badan menurun, kelihatan pucat, epistaksis, athralgia, rasa sakit disekitar sendi, sakit perut.
·         Stadium IV 
Disebut juga stadium inaktif. Pada stadium ini penderita demam reumatik tanpa kelainan jantung/penderita penyakit jantung reumatik tanpa gejala sisa katup tidak menunjukkan gejala apa-apa. 
Pada penderita penyakit jantung reumatik dengan gejala sisa kelainan katupjantung, gejala yang timbul sesuai dengan jenis serta beratnya kelainan. Pada fase ini baik penderita demam reumatik maupun penyakit jantung reumatik sewaktu-waktu dapat mengalami reaktivasi penyakitnya.

E.    Gejala Klinis
Demam reumatik merupakan kumpulan sejumlah gejala dan tanda klinik. Demam reumatik merupakan penyakit pada banyak sistem, mengenai terutama jantung, sendi, otak dan jaringan kulit. Tanda dan gejala akut demam reumatik bervariasi tergantung organ yang terlibat dan derajat keterlibatannya. Biasanya gejala-gejala ini berlangsung satu sampai enam minggu setelah infeksi oleh Streptococcus. Gejala klinis pada penyakit jantung reumatik bisa berupa gejala kardiak (jantung) dan non kardiak.
Gejala non kardiak pada Penyakit Jantung Reumatik antara lain:

·         Manifestasi kardiak dari demam reumatik
(infeksi dan peradangan jantung) adalah komplikasi paling serius dan kedua paling umum dari demam reumatik (sekitar 50 %). Pada kasus-kasus yang lebih lanjut, pasien dapat mengeluh sesak nafas, dada terasa tidak nyaman, nyeri dada, edema (bengkak), batuk atau ortopneu (sesak saat berbaring)
– Pada pemeriksaan fisik, karditis (peradangan pada jantung) umumnya dideteksi dengan ditemukannya bising jantung (gangguan bunyi jantung) atau takikardia (jantung berdetak > 100x/menit) diluar terjadinya demam
– Manifestasi kardiak lain adalah gagal jantung kongestif dan perikarditis (radang selaput jantung)
– Pasien dengan diagnosis demam reumatik akut harus dikontrol sesering mungkin karena progresifitas penyakitnya.
·         Murmur (bising jantung) baru atau perubahan bunyi murmur. Murmur yang didengar pada demam reumatik akut biasanya disebabkan oleh insufisiensi katup (gangguan katup)
·         Gagal jantung kongestif
– Gagal jantung dapat terjadi sekunder akibat insufisiensi katup yang berat atau miokarditis (radang pada sel otot jantung)
·         Perikarditis
·          Poliartritis (peradangan pada banyak sendi) adalah gejala umum dan merupakan manifestasi awal dari demam reumatik (70 – 75 %). Umumnya artritis (radang sendi) dimulai pada sendi-sendi besar di ekstremitas bawah (lutut dan engkel) lalu bermigrasi ke sendi-sendi besar lain di ekstremitas atas atau bawah (siku dan pergelangan tangan). Sendi yang terkena akan terasa sakit, bengkak, terasa hangat, eritem dan pergerakan terbatas. Gejala artritis mencapai puncaknya pada waktu 12 – 24 jam dan bertahan dalam waktu 2 – 6 hari (jarang terjadi lebih dari 3 minggu) dan berespon sangat baik dengan pemberian aspirin. Poliartritis lebih umum dijumpai pada remaja dan orang dewasa muda dibandingkan pada anak-anak.
·         Khorea Sydenham, khorea minor atau St. Vance, dance mengenai hampir 15% penderita demam reumatik. Manifestasi ini mencerminkan keterlibatan sistem syaraf sentral pada proses radang. Penderita dengan khorea ini datang dengan gerakan-gerakan yang tidak terkoordinasi dan tidak bertujuan dan emosi labil. Manifestasi ini lebih nyata bila penderita bangun dan dalam keadaan stres. Penderita tampak selalu gugup dan seringkali menyeringai. Bicaranya tertahan-tahan dan meledak-ledak. Koordinasi otot-otot halus sukar. Tulisan tangannya jelek dan ditandai oleh coretan ke atas yang tidak mantap dengan garis yang ragu-ragu. Pada saat puncak gejalanya tulisannya tidak dapat dibaca sama sekali.
·          Erithema marginatum merupakan ruam yang khas untuk demam reumatik dan jarang ditemukan pada penyakit lain. Karena kekhasannya tanda ini dimasukkan dalam manifestasi minor. Kelainan ini berupa ruam tidak gatal, makuler dengan tepi erithema (kemerahan) yang menjalar dari bagian satu ke bagian lain mengelilingi kulit yang tampak normal, terjadi pada 5% penderita. Gangguan ini berdiameter 2,5 cm dan paling sering ditemukan pada batang tubuh dan tungkai bagian atas, tidak melibatkan muka. Erithema ini timbul sewaktu-waktu selama sakit, meskipun yang tersering adalah pada stadium awal, dan biasanya terjadi hanya pada penderita demam reumatik dengan karditis.
·         Nodul subkutan. Frekuensi manifestasi ini menurun sejak beberapa dekade terakhir, dan kini hanya ditemukan pada penderita penyakit jantung reumatik khronik. Frekuensinya kurang dari 5%, namun pada penjangkitan di Utah nodulus subkutan ditemukan pada sampai 10% penderita. Nodulus (benjolan) ini biasanya terletak pada permukaan sendi, terutama ruas jari, lutut, dan persendian kaki. Kadang-kadangg nodulus ini ditemukan pada kulit kepala dan di atas tulang belakang. Ukurannya bervariasi dari 0,5 sampai dengan 2 cm serta tidak nyeri dan dapat digerakkan secara bebas; biasanya kecil dan menghilang lebih cepat. Kulit yang menutupi tidak pucat atau meradang. Nodulus ini muncul hanya sesudah beberapa minggu sakit dan kebanyakan hanya ditemukan pada penderita dengan karditis.
·         Manifestasi lain dari demam reumatik antara lain nyeri perut, epistaksis (mimisan), demam dengan suhu di atas 39 °C dengan pola yang tidak karakteristik, pneumonia reumatik yang gejalanya mirip dengan pneumonia karena infeksi.
·         Tromboemboli (sumbatan di pembuluh darah) bisa terjadi sebagai komplikasi dari stenosis mitral (gangguan katup).
·         Anemia hemolitik kardiak bisa terjadi akibat pecahnya sel darah merah karena bergesekan dengan katup yang terinfeksi. Peningkatan penghancuran trombosit bisa juga terjadi.
·         Aritmia atrium (gangguan irama jantung) biasanya terjadi karena pembesaran atrium kiri karena gangguan pada katup mitral.

Gejala kardiak pada Penyakit Jantung Reumatik antara lain:
·         Pankarditis (radang pada jantung) adalah komplikasi paling serius dan kedua paling umum dari demam reumatik (sekitar 50 %). Pada kasus-kasus yang lebih lanjut, pasien dapat mengeluh sesak nafas, dada terasa tidak nyaman, nyeri dada, edema (bengkak), batuk.
·         Manifestasi kardiak lain adalah gagal jantung kongestif dan perikarditis.
·         Kelainan pada bunyi jantung
·         Gagal jantung
·         Radang pada selaput jantung
F.    Pemeriksaan
1.    Pemeriksaan laboratorium
Dari pemeriksaan laboratorium darah didapatkan peningkatan ASTO, peningkatan laju endap darah ( LED ),terjadi leukositosis, dan dapat terjadi penurunan hemoglobin .
2.    Radiologi
Pada pemeriksaan foto thoraks menunjukan terjadinya pembesaran pada jantung
3.    Pemeriksaan Echokardiogram
Menunjukan pembesaran pada jantung dan terdapat lesi
4.    Pemeriksaan Elektrokardiogram
Menunjukan interval P-R memanjang.
5.    Hapusan tenggorokan
Ditemukan steptococcus hemolitikus b grup A

G.   Pencegahan
Dapat dicegah melalui penatalaksanaan awal dan adekuat terhadap infeksi streptokokus pada semua orang.
Langkah pertama dalam mencegah serangan awal adalah mendeteksi adanya infeksi streptokokus untuk penatalaksanaan yang adekuat, dan pemantauan epidemi dalam komunitas. Setiap perawat harus mengenal dengan baik tanda dan gejala faringitis streptokokus; panas tinggi (38,9° sampai 40°C atau 101° sampai 104°F), menggigil, sakit tenggorokan, kemerahan pada tenggorokan disertai aksudat, nyeri abdomen, dan infeksi hidung akut. Kultur tenggorok merupakan satu-satunya metode untuk menegakkan diagnosa secara akurat.
Pasien yang rentan memerlukan terapi antibiotika oral jangka panjang atau perlu menelan antibiotika profilaksis sebelum menjalani prosedur yang dapat menimbulkan invasi oleh mikroorganisme ini. Pemberian penisilin sebelum pemeriksaan gigi merupakan contoh yang baik. Pasien juga harus diingatkan untuk menggunakan antibiotika profilaksis pada prosedur yang lebih jarang dilakukan seperti sitoskopi.

H.   Penatalaksanaan
Karena penyakit jantung rematik berhubungan erat dengan radang Streptococcus betahemolyticus grup A, maka penyembuhan ditujukan pada radang tersebut. Ini dapat berupa :
1.    Eradikasi kuman Streptococcus beta-hemolyticus grup A
Pengobatan adekuat harus dimulai secepatnya pada DR dan dilanjutkan dengan pencegahan. Erythromycin diberikan kepada mereka yang alergi terhadap penicillin.
2.    Obat anti rematik
Baik cortocisteroid maupun salisilat diketahui sebagai obat yang berguna untuk mengurangi/menghilangkan gejala-gejala radang akut pada DR.
3.     Manajemen Diet
Tujuan diet pada penyakit jantung reumatik adalah memberikan makanan secukupnya tanpa memberatkan kerja jantung, mencegah atau menghilangkan penimbunan garam atau air. Syarat-syarat diet pada penyakit jantung reumatik antara lain:
·         Energi yang cukup untuk mencapai atau mempertahankan berat badan yang normal.
·         Protein yang cukup yaitu 0,8 gram/KgBB
·          Lemak sedang yaitu 25-30 % dari kebutuhan energi total (10 % dari lemak jenuh dan 15 % dari lemak tidak jenuh).
·         Vitamin dan mineral yang cukup.
·         Diet rendah garam (2-3 gram/hari).
·         Makanan mudah dicerna dan tidak menimbulkan gas.
·         Serat yang cukup untuk menghindari konstipasi.
·         Cairan cukup 2 liter/hari
Bila kebutuhan gizi dapat dipenuhi melalui makanan maka dapat diberikan berupa makanan enteral, parenteral atau suplemen gizi. Makanan yang cukup kalori, protein dan vitamin.
4.    Istirahat
Istirahat dianjurkan sampai tanda-tanda inflamasi hilang dan bentuk jantung mengecil pada kasus-kasus kardiomegali. Biasanya 7-14 hari pada kasus Demam Reumatik minus carditis. Pada kasus plus carditis, lama istirahat rata-rata 3 minggu – 3 bulan tergantung pada berat ringannya kelainan yang ada serta kemajuan perjalanan penyakit.
5.     Obat-obatan
Diberikan sesuai dengan kebutuhan. Pada kasus dengan dekompensasi kordis diberikan digitalis, diuretika dan sedative. Bila ada chorea diberikan largactil dan lain-lain.

I.      Prognosis
Adanya atau tidak adanya kerusakan jantung permanen menentukan prognosis. Perkembangan dari penyakit jantung residual dipengaruhi oleh 3 faktor, yaitu :
1.    Keadaan jantung pada awal terapi. Semakin berat keterlibatan jantung pada saat pertama kali pasien diperiksa, semakin besar resiko timbulnya kelainan jantung residual.
2.    Kekambuhan demam reumatik. Semakin berat keterlibatan katup, maka angka kekambuhannya semakin tinggi.

3.    Regresi dari gangguan jantung. Bukti adanya keterlibatan jantung pada serangan awal mungkin tidak terlihat pada 10 – 25 % pasien, dan baru nampak kurang lebih 10 tahun setelah serangan awal

Kamis, 06 November 2014

laporan pengukuran antropometri

LAPORAN PENILAIAN STATUS GIZI DASAR
“ SOP ANTROPOMETRI GIZI”


Kelompok :
1.    Endah Widiyaningsih                            ( P07131213039 )
2.    Fajar Ryandoko                                    ( P07131213041 )
3.    Madhina Durrotul Azza                         ( P07131213053 )
4.    Rr Erina Wulandari                               ( P07131213065 )
5.    Tutu Wisti Sabila                                   ( P07131213067 )
6.    Utami Putri Kinayungan                       ( P07131213070 )


KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLTEKKES KEMENKES YOGYAKARTA
JURUSAN GIZI
2014

A.   Acara Praktikum             : Penggunaan alat antropometri gizi   menurut SOP
B. Tujuan Praktikum   : Mahasiswa mampu memahami standar operasoinal procedure penggunaan alat-alat antropometri gizi.
C.   Waktu Praktikum                        : Senin, 15 September 2014
D.   Alat dan Bahan               :
·         Baby Scale
·         Dacin
·         Microtoise
·         Infantometer
·         LILA
·         Timbangan Digital
E.    Hasil dan Pembahasan :
1.    Baby Scale
a.    Letakkan baby scale pada tempat/lantai yang datar.
b.    Pastikan bayi memakai pakaian seminimal mungkin.
c.    Letakkan bayi pada timbangan dan ukur berat badannya (mata pengamat harus sejajar dengan skala timbangan).
d.    Catat hasilnya, lalu angkat dan turunkan bayi dari timbangan.
*Keterangan : Jarum Merah : 0-10 kg dengan tingkat ketelitian 0,05 kg.
Jarum Biru : 10-20 kg dengan tingkat ketelitian 0,1 kg.

Hasil Pengukuran
Bayi Ke
Berat (kg)
1
5,6
2
3,7
3
6,5

2.    Dacin
a.    Gantungkan dacin pada dahan pohon atau palang rumah atau penyangga kaki tiga.
b.    Periksalah apakah dacin sudah tergantung kuat. Tarik batang dacin ke bawah kuat-kuat.
c.    Sebelum dipakai geser bandul pada angka 0 (nol). Batang dacin dikaitkan dengan tali pengaman.
d.    Pasanglah celana timbang atau kotak timbang atau sarung timbang yang kosong pada dacin. Ingat bandul geser pada angka 0 (nol).
e.    Seimbangkan dacin yang sudah dibebani celana timbang, sarung timbang atau kotak timbangan dengan cara memasukkan pasir ke dalam kantong plastik.
f.     Anak ditimbang dan seimbangkan dacing.
g.    Tentukan berat badan anak, dengan membaca skala di ujung bandul yang telah digeser.
h.    Catat hasil penimbangan di atas.
i.      Geserlah bandul ke angka 0 (nol), letakkan batang dacin dalam tali pengaman, setelah itu bayi atau anak diturunkan.

Hasil Pengukuran
Bayi Ke
Berat (kg)
1
5,3
2
3,6
3
6,4

3.    Microtoise
a.    Carilah dinding atau tiang yang rata, tegak lurus pada lantai dan memiliki lebar minimal selebar bahu. Lantai harus rata dan datar.
b.    Letakkan microtoise pada lantai, rapat pada dinding sehingga ujung pita menghadap ke atas. Tarik ujung pita sampai habis lalu pakulah ujung pita pada tempat yang telah disediakan,
c.    Microtoise ditarik ke atas hingga melebihi anak yang diukur.
d.    Anak jangan menggunakan alas kaki atau topi ketika diukur.
e.    Anak yang diukur berdiri tegak lurus rapat ke dinding tepat di bawah microtoise.
f.     Posisi kepala,bahu bagian belakang,pantat dan tumit rapat ke dinding,pandangan ke depan.
g.    Turunkan microtoise sampai menyentuh tepat pada kepala bagian atas, pastikan microtoise tetap menempel rapat ke dinding.
h.    Lakukan pembacaan terhadap hasil pengukuran.
a.    Catat hasil pengukuran.

Nama
Panjang (cm)
Erina
147
Tutu
160
Utami
152
Madhina
156,7
Endah
154

4.    Infantometer
a.    Letakkan infantometer pada meja yang rata.
b.    Pastikan meteran pengukur pada angka 0 (nol).
c.    Subyek yang akan diukur dibaringkan dan dilepas sepatu / sandal, topi, dan lain sebagainya.
d.    Kepala (bagian atas, ubun-ubun) menempel pada papan bagian atas dan muka menghadap lurus.
e.    Kaki rapat dan lurus, apabila sulit sehingga telapak kaki menekuk, luruskan dengan cara menyentuh bagian telapak.
f.     Naikkan / geser meteran pengukur sampai tepat di telapak kaki. Panjang badan diketahui dari angka yang tertera.
g.    Catat panjang badan seakurat mungkin.

Hasil Pengukuran
Bayi Ke
Panjang ( cm )
1
39
2
45,7
3
39,8

5.    LILA
a.    Tetapkan letak ujung pundak dan ujung siku dengan cara ditekuk.
b.    Tempelkan pita pada ujung pundak dalam posisi tangan bergantung bebas tidak tertutup kain atau pakaian.
c.    Tarik pita hingga melewati siku.
d.    Tentukan titik tengah lengan. Lalu tandai bagian tengah tersebut.
e.    Lingkarkan pita LILA tepat pada tanda tadi.
a.    Lakukan pembacaan terhadap hasil pengukuran.
b.    Catat hasil pengukuran.
Hasil pengukuran lengan Tutu yang dilakukan oleh :
Nama
Panjang (cm)
Erina
25,3
Utami
24,9
Madhina
25,2
Endah
24,6

6.    Timbangan Digital
a.    Aktifkan alat timbang dengan cara menekan timbangan pada bagian pijakan.
b.    Pada layar muncul angka 88:8,8 tunggu hingga muncul angka 0,0 kg.
c.    Pastikan timbangan pada keadaan On.
d.    Upayakan penimbang dengan pakain seminimal mungkin.
e.    Subjek berdiri di atas timbangan dengan berat yang tersebar merata pada kedua kaki, pandangan lurus ke depan.
a.    Catat angka BB yang tertera pada layar seakurat mungkin.

Hasil Pengukuran
Nama
Berat (kg)
Erina
67,2
Utami
53,3
Madhina
47
Tutu
51,8
Endah
47,9

F.    Kesimpulan                     :
Untuk memperoleh data yang akurat dan valid, diperlukan pengetahuan sesuai dengan Standar Operasional Procedure alat antropometri gizi. Ini bertujuan mengurangi tingkat kesalahan dan kecelakaan kerja pada saat pengukuran.

G.   Daftar Pustaka
  Aritonang, Irianton. 2011. Menilai Status Gizi untuk Mencapai Sehat Optimal.             Yogyakarta: Leutika dengan CEBios.
                 Artitonang, Irianton.2013.Memantau dan Menilai Status Gizi.Yogyakarta
                    LeutikaBooks dengan CEBios